Alhamdulillah, Harga Rokok Naik Per 1 Januari 2023, Berikut Daftar Lengkapnya

Alhamdulillah, Harga Rokok Naik Per 1 Januari 2023, Berikut Daftar Lengkapnya

Harga rokok naik.--

JAKARTA, LINGGAUPOS.CO.ID - Wah harga rokok naik per 1 Januari 2023, kenaikan itu rata-rata 10 persen.

Menteri Keuangan Sri Mulyani resmi merilis tentang Peraturan Menteri Keuangan Nomor 192 Tahun 2021 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau Berupa Sigaret, Cerutu, Rokok Daun atau Klobor dan Tembakau Iris.

Aturan itu tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 191 Tahun 2022 tentang tentang Perubahan Kedua.

Selain itu, harga rokok naik 1 Januari 2023 perlu dilakukan supaya tingkat konsumsi hasil tembakau dari rokok bisa dikendalikan. Terutama bagi konsumen di kalangan anak-anak yang berusia 10-18 tahun.

Pemerintah kembali melakukan penyesuaian tarif Cukai Hasil Tembakau (CHT). Penyesuaian tarif yang berimbas pada kenaikan harga rokok ini akan berlaku pada 1 Januari 2023.

BACA JUGA:Jika Liburan ke Yogyakarta, Wajib Kunjungi 3 Wisata Pantai Ini

Penyesuaian tarif Cukai Hasil Tembakau (CHT) ini resmi dilakukan pemerintah dengan mempertimbangkan aspek ekonomi, ketenagakerjaan, keberlanjutan industry rokok dan pengendalian peredaran rokok ilegal.

Bahkan penyesuaian CHT ini sudah disetujui Komisi XI DPR RI atas usulan pemerintah.

Dalam siaran pers yang diterbitkan Kementerian Keuangan (Kemenkeu), tarif cukai dan batasan minimum Harga Jual Eceran (HJE) yang baru ini diatur lebih lanjut melalui Peraturan Menteri Keuangan.

Penyesuaian ini tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020 – 2024.

BACA JUGA:Ranking Antipiretik

Pemerintah menetapkan target penurunan prevalensi merokok khususnya usia 10 - 18 tahun sebesar 8,7 persen di tahun 2024.

Dalam proses penyusunan PMK ini telah melalui konsultasi dengan DPR dan juga audiensi dengan petani tembakau.

Pemerintah dalam menjalankan kebijakan kenaikan tarif CHT ini akan memperhatikan kepentingan petani tembakau dan tenaga kerja industri tembakau nasional, termasuk dengan meningkatkan upaya dalam mencegah beredarnya rokok ilegal dan memperkuat pengendalian impor tembakau untuk melindungi kepentingan petani tembakau.

Kenaikan tarif cukai sigaret rata-rata sebesar 10 persen pada tahun 2023-2024 dilakukan untuk mendukung target penurunan prevalensi merokok anak.

BACA JUGA:Piala AFF 2022: Prediksi Singapura vs Myanmar, Wajib Tiga Poin

Khusus tarif cukai untuk jenis Sigaret Kretek Tangan (SKT), kenaikan maksimum sebesar 5% dengan pertimbangan keberlangsungan tenaga kerja.

Selain itu, hasil tembakau berupa Rokok Elektrik (REL) dan Hasil Pengolahan Tembakau Lainnya (HPTL) tarif cukainya juga dinaikkan rata-rata sebesar 15 persen dan 6 persen setiap tahunnya untuk dua tahun ke depan.

Administrasi cukai REL dan HPTL disederhanakan dengan penetapan tarif cukai berlaku cukup terhadap setiap varian volume kemasan penjualan eceran per HJE serta pemberian fitur personalisasi pada pita cukai REL dan HPTL.

Pengambilan kebijakan penyesuaian tarif CHT juga telah mempertimbangkan sisi makro ekonomi, terutama di tengah situasi ekonomi domestik yang terus menguat dalam masa pemulihan ekonomi nasional.

BACA JUGA:Piala AFF 2022: Prediksi Malaysia vs Laos, Harimau Malaya Berpeluang Menang

Kebijakan ini diperkirakan memberikan dampak yang terbatas pada inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) dan sudah terkelola dengan baik.

Kenaikan rata-rata tarif CHT 10 persen diperkirakan akan menyebabkan kenaikan inflasi pada kisaran 0,1-0,2 percentage point sehingga dampak pada pertumbuhan ekonomi dan ketenagakerjaan juga diperkirakan relatif kecil.

Dari aspek anggaran untuk kesehatan, alokasi anggaran penanggulangan dampak merokok mencapai sebesar Rp17,9 triliun – Rp27,7 triliun per tahun.

Dari total biaya ini, terdapat Rp10,5 triliun -Rp15,6 triliun yang merupakan biaya perawatan yang dikeluarkan BPJS Kesehatan atau setara dengan 20 persen - 30 persen dari subsidi Penerima Bantuan Iuran (PBI) JKN per tahun sebesar Rp48,8 triliun.

BACA JUGA:BRI Liga 1: Prediksi Persita Tangerang vs Barito Putera, Tren Positif Antasari

Penyesuaian tarif CHT ini diperkirakan juga akan berdampak pada beberapa hal seperti penurunan prevalensi merokok anak menjadi 8,92 persen di 2023 dan 8,79 persen di 2024 dan naiknya indeks kemahalan rokok menjadi 12,46 persen di tahun 2023 dan 12,35 persen di tahun 2024.

Penurunan prevalensi merokok anak ini dapat berdampak positif bukan hanya dari sisi aspek anggaran kesehatan namun juga dapat meningkatkan kesehatan masyarakat sebagai bentuk komitmen untuk terus meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia yang menjadi salah satu prasyarat untuk penguatan produktifitas nasional dalam rangka mencapai visi Indonesia Maju 2045.

Selain untuk pengendalian konsumsi rokok, penyesuaian tarif CHT juga telah mempertimbangkan petani tembakau, pekerja, serta industri hasil tembakau, penerimaan negara, dan pengawasan Barang Kena Cukai (BKC) ilegal.

Kebijakan tarif cukai berupa sigaret akan berlaku untuk 2023 dan 2024. Hal ini bertujuan untuk menyederhanakan proses perumusan kebijakan CHT setiap tahunnya dan memberikan kepastian bagi pelaku industri dan seluruh stakeholders terkait.

BACA JUGA:BRI Liga 1: Prediksi Persikabo 1973 vs Persib Bandung, Tancap Gas

Adanya penerimaan negara yang berasal dari penyesuaian tarif ini akan disalurkan kembali untuk masyarakat terdampak dalam bentuk Dana Bagi Hasil Cukai (DBH) CHT.

Nilai penyaluran DBH CHT ini akan naik dari 2 persen menjadi 3 persen dan akan digunakan untuk peningkatan kualitas bahan baku, pembinaan industri, pembinaan lingkungan sosial, sosialisasi ketentuan di bidang cukai, dan pemberantasan BKC illegal.

“Melalui Dana Bagi Hasil CHT, kami terus meningkatkan dukungan terhadap para petani dan buruh serta buruh tembakau maupun buruh rokok. Kalau kita lihat tahun 2022 dan 2023 dibandingkan policy mengenai DBH CHT Tahun 2020 dan 2021, terlihat sekali keberpihakan dari kebijakan DBH ini,” ujar Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati.

Besaran alokasi DBH CHT akan diberikan sebanyak 50 persen untuk bidang kesejahteraan masyarakat yang digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan pekerja industri tembakau yang terdampak. Adapun untuk bidang kesehatan, DBH CHT dialokasikan sebesar 40 persen dan DBH CHT untuk bidang penegakan hukum sebesar 10 persen.

BACA JUGA:BRI Liga 1: Prediksi Persik Kediri vs Persis Solo, Lepas Dari Zona Merah

Selanjutnya dari sisi implementasi dan pengawasan, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) akan melakukan langkah-langkah guna memastikan kelancaran proses transisi dari kebijakan tahun sebelumnya menuju ke tahun 2023.

Langkah pertama, yaitu, mulai tanggal 15 Desember 2022, DJBC akan melakukan penetapan kembali terhadap seluruh merek sigaret yang masih berlaku yang terdaftar pada administrasi DJBC.

Pelaksanaan penetapan kembali dilakukan terotomasi melalui aplikasi ExSis tanpa permohonan dari Pengusaha Pabrik atau Importir.

Sementara, untuk Pengusaha Pabrik/Importir Rokok Elektrik dan HPTL, mulai tanggal 15 Desember 2022 perlu untuk mengajukan permohonan penetapan tarif cukai merek baru karena adanya perubahan administrasi cukai.

BACA JUGA:BRI Liga 1: Prediksi Dewa United vs Persebaya Surabaya, Pertemuan Dua Pelatih Top Lokal

Terkait pemesanan pita cukai, proses Permohonan Penyediaan Pita Cukai (P3C) Tahun Anggaran 2023 sudah dapat dilakukan melalui aplikasi ExSis oleh Pengusaha Pabrik/Importir sesaat setelah proses penetapan kembali berhasil dilakukan.

Terkait ketersediaan pita cukai, DJBC telah berkoordinasi dengan konsorsium penyedia pita cukai untuk menilai kesiapan konsorsium dalam mencetak pita cukai T.A. 2023.

Dari koordinasi tersebut, pihak konsorsium menjamin ketersediaan pita cukai Tahun Anggaran 2023 pada awal Januari 2023. Untuk menunjang kelancaran masa transisi ini, DJBC akan melakukan sosialisasi kebijakan kepada asosiasi pelaku usaha Industri Hasil Tembakau.

Dengan adanya penyesuaian tarif ini, diperkirakan akan ada potensi bertambahnya rokok ilegal. Untuk itu, upaya pengawasan dan penindakan akan terus ditingkatkan, baik yang bersifat preventif maupun represif. Di tahun 2022, lebih dari 37 ribu penindakan terhadap rokok ilegal berhasil dilakukan.

BACA JUGA:Hasil Piala AFF 2022 Grup A: Indonesia vs Kamboja 2-1, Filipina vs Brunei 5-1, Indonesia Peringkat 3 Klasemen

Angka ini meningkat hampir 28 persen dari penindakan di tahun 2021. Keberhasilan penindakan tersebut merupakan buah dari strategi pengawasan yang terdiri dari kolaborasi dan sinergi lintas Kementerian/Lembaga dalam rangka pengawasan dari hulu ke hilir, kolaborasi internal DJBC mulai dari unit pengawasan, unit pelayanan, unit kehumasan, dan unit kepatuhan internal.

Kebijakan cukai hasil tembakau mengakomodasi kepentingan banyak pihak, sehingga kolaborasi dengan para pihak terkait merupakan prasyarat keberhasilan perumusan dan pelaksanaan kebijakannya.

“Kementerian Keuangan akan terus mendorong penguatan kolaborasi antara Bea Cukai bersama aparat penegak hukum dan TNI untuk pencegahan dan penindakan rokok ilegal,” tutup Menkeu.

Adapun harga rokok yang ditetapkan pemerintah tahun 2023 mendatang berdasarkan Permenkeu Nomor 191/PMK.010/2022 tentang perubahan Kedua atas PMK 192/PMK.010/2021 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau (CHT) berupa sigaret, cerutu, rokok daun atau klobot, dan tembakau iris adalah dikutip dari idxchannel.com sebagai berikut:

BACA JUGA:Marc Marquez: Bantu Haiti Basmi Penyakit Mata, Sumbang 100.000 Euro

Sigaret Kretek Mesin (SKM):

Golongan 1: Harga paling rendah Rp2.055,00 (cukai Rp1.101,00)

Golongan 2: Harga paling rendah Rp1.255,00 (cukai Rp669,00)

Sigaret Putih Mesin (SPM):

BACA JUGA:Cristiano Ronaldo: Mantap Pindah ke Al-Nassr

Golongan 1: Harga paling rendah Rp2.165,00 (cukai Rp1.193,00)

Golongan 2: Harga paling rendah Rp1.295,00 (cukai Rp710,00)

Sigaret Kretek Tangan (SKT atau SPT):

Golongan 1: Lebih dari Rp1.800,00, harga paling rendah Rp1.250,00 - Rp1.800,00 (cukai Rp461,00 - Rp361,00)

BACA JUGA:Valentino Rossi: Resmi Jadi Pembalap Baru BMW, Terikat Kontrak Pabrikan!

Golongan 2: Harga paling rendah Rp720,00 (cukai Rp214,00)

Golongan 3: Harga paling rendah Rp605,00 (cukai Rp118,00)

Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF atau SPTF) Tanpa golongan:

Harga paling rendah Rp2.055,00 (cukai Rp1.101,00)

BACA JUGA:Piala AFF 2022: Indonesia vs Kamboja, Skor 2-1, Awal Sempurna

Kelembak Kemenyan (KLM)

Golongan 1: Rp860,00 (cukai Rp461,00)

Golongan 2: Rp200,00 (cukai Rp25,00)

Tembakau Iris (TIS) Tanpa golongan:

BACA JUGA:Lapas Lubuklinggau Tingkatkan Pengamanan Jelang Natal dan Tahun Baru

Lebih dari Rp275,00 (cukai Rp30,00)

Lebih dari Rp180,00 -  Rp275,00 (cukai Rp25,00)

Harga paling rendah Rp55,00 - Rp180,00 (cukai Rp10,00)

Rokok Daun atau Klobot (KLB) Tanpa golongan:

BACA JUGA:11 Jalan Tol Dibuka Saat Natal dan Tahun Baru 2023, Termasuk Tol Lubuklinggau – Curup Bengkulu Seksi 3

Harga paling rendah Rp290,00 (cukai Rp30,00)

Cerutu (CRT) Tanpa golongan:

Lebih dari Rp198.000,00 (cukai Rp110.000,00)

Lebih dari Rp55.000,00 - Rp198.000,00 (cukai Rp22.000,00)

BACA JUGA:Film Cek Toko Sebelah 2 dan Tumbal Kanjeng Iblis Tayang di Cinepolis Lippo Plaza Lubukinggau

Lebih dari Rp22.000,00 - Rp55.000,00 (cukai Rp11.000,00)

Lebih dari Rp5.500,00 - Rp22.000,00 (cukai Rp1.320,00)

Harga paling rendah Rp495,00 - Rp5.500,00 (cukai Rp1.320,000)

Nah bagi ahli hisap, mungkin sudah saatnya berusaha untuk mengurangi rokok karena kenaikan ini diproyeksi hingga dua tahun kedepan.(*)

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: