Anies: Erdogan Nusantara? (1)

Anies: Erdogan Nusantara? (1)

Recep Tayyip Erdogan-Geralt-Pixabay

Oleh: Hendy UP *) 

Membaca percakapan politik Timur Tengah hari-hari ini, para pemerhati perjuangan Islam dunia akan tertuju pada perhelatan Pemilu Turki. 

Pemilu untuk memilih Presiden Turki ini diselenggarakan Ahad, 14 Mei 2023, yang dinilai oleh para pakar Timur Tengah sebagai pertarungan mati-matian antara kelompok Pembela Islam dengan gerombolan pengusung Sekulerisme sisa-sisa rezim Mustafa Kamal Attaturk. 

Rezim sekulerisme di era Mustafa Kamal (penguasa boneka Eropa khususnya Prancis), pernah berkuasa selama 27-an tahun (1923- 1950), dan dinilai sangat berhasil dalam memberangus akar budaya Islam yang telah mengurat-akar selama lebih dari 5 abad sejak era Khilafah Ustmaniyah berdiri. 

BACA JUGA:Prabowo Penuhi Kriteria Capres Versi Jokowi

Dikisahkan bahwa sejak awal Mustafa Kamal mendirikan Negara Turki (29 Oktober 1923), langkah pertama adalah membumihanguskan ajaran Islam dan menghapus setiap simbol Islam seperti: sekolah Islam, mahkamah syariah, ekonomi Islam, pakaian Islam dan semua yang berbau Islam. 

Yang sangat parah adalah mengganti lafal adzan diganti dengan basa Turki dan melarang membaca Al-Qur'an dengan bahasa Arab. Subhanalloh! 

Dan selama 30-an tahun rezim sekuler Mustafa Kamal, tak ubahnya adalah pion dari kaum Yahudi dan Kristen Eropa yang hasad terhadap kemajuan Islam. 

Para pejabat dan elite masyarakat dibuat alergi dengan: pengajian di masjid dan kampus, pakaian muslim dan muslimah, menghapus pelajaran ke-Islaman di sekolah-sekolah. 

BACA JUGA:Gue Suka Anies!

Pendeknya, segala hal yang berbau Islam dicerabut dari masyarakat. Dan ternyata dengan model sekulerismenya, Turki menjadi negeri korup, miskin, penuh mala-petaka dan menyimpan segudang persoalan sosial. 

Sekilah Profil Capres Turki

Sekadar catatan bahwa UU Pemilu terbaru di Turki sangatlah realistik. Untuk mencalonkan presiden, Parpol cukup mengantongi 7% suara nasional dan untuk calon independen cukup memberkaskan 100 ribu tanda tangan warga. (Bandingkan dengan Indonesia yang mensyaratkan Presidential Threshold 20%!).

Sehingga dalam Pilpres kali ini muncul 3 kandidat presiden, yakni: (1) Recep Tayyip Erdogan, incumbent dari Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang didukung Aliansi Rakyat; (2) Kemal Kılıçdaroğlu, Ketua Partai Rakyat Republik, partai sekular besutan mendiang Mustafa Kemal yang didukung Aliansi Bangsa, dan (3) Sinan Oğan dari calon independen yang didukung Aliansi Leluhur. Sayang, kandidat Muharrem İnce dari Partai Tanah Air mundur menjelang Pemilu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: