Rumput Fatimah: Antara Mitos Tradisional dan Fakta Medis dalam Persalinan

Rumput Fatimah: Antara Mitos Tradisional dan Fakta Medis dalam Persalinan

Rumput Fatimah: Antara Mitos Tradisional dan Fakta Medis dalam Persalinan-Mahasiswa Prodi Farmasi, Fakultas MIPA Universitas Sriwijaya dan Dosen Pengampu-

Kepercayaan Alami dan Persepsi Masyarakat

LINGGAUPOS.CO.ID - Di tengah perkembangan layanan kesehatan modern, penggunaan ramuan herbal menjelang persalinan masih menjadi bagian dari tradisi sebagian masyarakat. Salah satu yang paling melegenda jelas Rumput Fatimah (Anastatica hierochuntica).

Tanaman kering ini sering dianggap sebagai "keajaiban alami" yang dipercaya dapat mempercepat proses persalinan, memperkuat daya tahan rahim, hingga mengurangi rasa lelah setelah melahirkan. Bagi banyak keluarga, minum air rendaman tanaman ini menjelang melahirkan sudah menjadi tradisi turun-temurun yang dianggap sebagai ikhtiar terbaik demi kelancaran menyambut si kecil.

Namun, benarkah bahan yang datang dari alam itu selalu aman, atau jangan-jangan ada bahaya tersembunyi di balik setiap tegukannya?

BACA JUGA:Cari Suplemen Kesehatan Anak? Boost ProteKid Bantu Jaga Daya Tahan Tubuh, Ini Aturan Pakainya

Tradisi yang Bertahan di Tengah Perkembangan Medis

Di tengah perkembangan layanan kesehatan modern, penggunaan ramuan herbal menjelang persalinan masih menjadi bagian dari tradisi sebagian masyarakat. Salah satu tanaman yang kerap digunakan adalah rumput Fatimah yang merujuk pada Anastatica hierochuntica, tanaman ini dipercaya dapat mempercepat proses persalinan.

Kepercayaan tersebut telah diwariskan secara turun-temurun dan masih dipraktikkan oleh sebagian masyarakat hingga saat ini. Sultan et al. (2023) menunjukkan bahwa penggunaan rumput Fatimah berkaitan dengan tradisi dan persepsi masyarakat mengenai manfaatnya bagi kesehatan reproduksi.

Meskipun demikian, keyakinan masyarakat terhadap manfaat rumput Fatimah tidak serta-merta dapat disamakan dengan bukti efektivitas medis. Penggunaan rumput Fatimah menjelang persalinan masih menjadi perhatian karena keamanan dan efektivitasnya belum dapat dipastikan sepenuhnya. Aktivitas biologis yang diduga memengaruhi kontraksi uterus juga menimbulkan kekhawatiran apabila tanaman ini digunakan secara mandiri tanpa pengawasan tenaga kesehatan.

BACA JUGA:Cara Minum Kalon Tea Hijau Premium Saffron, Teh Pelangsing Herbal Kaya Manfaat

Ada Senyawa Aktif tetapi Belum Jadi Obat Persalinan

Tanaman ini mempunyai berbagai kandungan senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, tanin, saponin, dan flavonoid. Menurut sejumlah penelitian mengeksplorasi kemungkinan aktivitas estrogenik pada tanaman ini. Namun, mekanismenya pada manusia belum dapat disimpulkan secara pasti. Menurut riset Safitri dkk. (2019), Estrogen berperan dalam kesiapan uterus menjelang persalinan, termasuk melalui perubahan sensitivitas jaringan terhadap oksitosin. Hal ini karena dapat meningkatkan reseptor oksitosin dan menyatukan sel-sel otot polos pada rahim supaya siap mendorong bayi keluar. 

Pandangan ini diperkuat oleh penelitian Noviyanti et al. (2017) pada tikus bunting, melaporkan peningkatan kadar estrogen setelah pemberian air rendaman A. hierochuntica. 

Penelitian praklinis Tessa Siswina dkk. (2025) dalam jurnal Women, Midwives and Midwifery juga melaporkan adanya pengaruh terhadap kadar oksitosin dan kontraksi uterus pada hewan coba. Intinya, tanaman ini memang punya efek nyata untuk menaikkan hormon oksitosin dan kontraksi rahim, makanya sering diandalkan dalam persalinan tradisional. Bahkan, Penelitian laboratorium di UGM menunjukkan adanya perubahan karakteristik kontraksi otot uterus tikus setelah paparan air rendaman rumput Fatimah.  Jadi, aktivitas biologisnya ke rahim memang beneran ada, bukan sekadar cerita fiksi masyarakat.

BACA JUGA:Cuci Muka Terlalu Sering: Bersih atau Justru Merusak Pelindung Kulit?

Kontraksi Tidak Boleh Dipacu Sembarangan

Meskipun beberapa penelitian praklinis menunjukkan bahwa rumput Fatimah memiliki aktivitas biologis terhadap uterus, penggunaannya tetap memerlukan kehati-hatian. Aktivitas biologis yang tidak terukur justru dapat menimbulkan risiko apabila digunakan tanpa pengawasan tenaga kesehatan.

Dalam proses persalinan normal, kontraksi uterus berperan penting untuk membantu pembukaan serviks dan mendorong kelahiran bayi. Namun, kontraksi yang terlalu sering atau terlalu kuat dapat mengganggu aliran darah sementara ke plasenta sehingga meningkatkan risiko gangguan oksigenasi janin.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: