Patut Ditiru Etika dan Moral Berpolitik Nabi Muhammad SAW, ini 5 Gaya Politik yang Harus Diteladani

Patut Ditiru Etika dan Moral Berpolitik Nabi Muhammad SAW, ini 5 Gaya Politik yang Harus Diteladani

5 gaya berpolitik Nabi Muhammad SAW-Foto: net-

LINGGAUPOS.CO.ID - Patut ditiru bagi kita sebagai warga Indonesia bagaimana etika dan moral berpolitik Nabi Muhammad SAW dalam mendekati masa-masa politik pada Pemilu 2024 mendatang, 

Tentunya, politik yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW adalah untuk kemaslahatan dan bukan untuk kekuasaan pribadi.

Di antara produk politik mulia dan monumental yang dilakukan Nabi Muhammad saw adalah terciptanya Piagam Madinah yang beliau rumuskan dan tanda tangani pasca hijrah (622 M). 

Dilansir dari nu.or.id, tindakan politis Nabi dinilai bukan merupakan sunnah tasyri’iyyah atau bukan syari’at yang mesti diikuti, tetapi sudah sepatutnya kita mengikuti contoh baik yang pernah diusung oleh sosok yang menjadi teladan hidup manusia. 

BACA JUGA:Benjamin Netanyahu Menteri Israel Dikecam Oleh Warganya Sendiri, Akibat Perang dengan Hamas

Pertama, politik Nabi Muhammad SAW dirumuskan melalui proses musyawarah antarindividu maupun kelompok.

Artinya untuk menghasilkan suatu keputusan politis yang baik, Nabi Muhammad SAW perlu merumuskannya bersama-sama orang-orang di sekitarnya.

Contoh musyawarah yang pernah dilakukan Nabi Muhammad SAW adalah ketika Perang Uhud untuk memutuskan antara beliau tetap tinggal di Madinah atau keluar menghadapi musuh. 

Hasil musyawarah tersebut pun adalah usulan terbanyak yang menegaskan agar semuanya berangkat menghadapi musuh sehingga Nabi pun ikut.

BACA JUGA:Mengerucut 4 Sosok Cawapres Prabowo, akan Kembali Menggelar Rapat Bahas Sosok Bakal Terpilih Menjadi Cawapres

Musyawarah juga terjadi antara Nabi Muhammad SAW dengan sahabatnya di Perang Khandaq dan juga peristiwa Hudaibiyah.

Kedua, politik Nabi Muhammad SAW selalu ditujukan untuk suatu kemaslahatan orang banyak, bahkan mendahulukan kemaslahatan umat dibanding kemasalahatan pribadi. 

Sifat mendahulukan umat dalam tindakan politis Nabi Muhammad SAW terkadang memaksa beliau untuk mengurungkan niatnya dalam melakukan sesuatu. 

Misalnya adalah niat Nabi Muhammad SAW untuk merenovasi Ka’bah. Namun, beliau mengurungkannya sebab khawatir mendapat penolakan bahkan menciptakan persilisihan di tengah masyarakat Muslim yang terhitung masih baru keislamannya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: nu.or.id