Merismon: Beli BBM Pakai MyPertamina, Sama Saja Membuat Masalah Baru

Merismon: Beli BBM Pakai MyPertamina, Sama Saja Membuat Masalah Baru

Aplikasi MyPertamina--

 

LINGGAUPOS.CO.ID – Pemerintah akan memberlakukan penggunaan QR Code untuk pembelian Bahan Bakar Minyak (BBM) Subsidi Pertalite dan Solar.

 

QR Code itu juga bisa didapatkan setelah mendaftar ke aplikasi MyPertamina.

Berkaitan dengan wacana ini, Anggota DPRD Lubuklinggau Merismon, mengatakan apa yang dilakukan Pertamina dengan menggunakan aplikasi untuk membeli BBM Subsidi, kurang tepat.

“Menggunakan aplikasi untuk membeli BBM subsidi, sama saja menyelesaikan masalah dengan masalah baru,” kata Merismon, Jumat (5/8/2022).

BACA JUGA:Sopir Angkot dan Ojek di Lubuklinggau Keluhankan Sulit Dapat Pertalite

Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini, mengatakan ia secara pribadi menilai untuk di Lubuklinggau, penggunakan aplikasi ini belum siap. Terutama masyarakat kecil menengah ke bawah.

“Bahkan masih banyak masyarakat belum menggunakan ponsel android,” ia mengatakan.

Kalaupun penggunaan aplikasi ini, diharapkan bisa mengurangi penyalahgunaan BBM Subsidi, menurut Merismon pemerintah daerah harus pengawasan.

“Bisa meminta mebantuan aparat kepolisian dan TNi untuk pengawasan. Kemudian jika ada penyelewengan pihak SPBU, pelaku penimbun, harus diselesaikan secara hukum,” jelasnya.

BACA JUGA:Mau Beli Pertalite atau Solar Harus Pake QR Code, Begini Mendapatkannya

Karena jika pelaku penimbun BBM, ditindak dengan tegas dan diselesaikan secara hukum. Maka pelanggaran bisa ditekan.

Sebelumnya, Sopir angkot dan tukang ojek di Lubuklinggau keluhkan sulitnya mendapat BBM jenis Pertalite.

Salah satunya Ayub, sopir angkot jurusan Pasar Impres Lubuklinggau - Tugumulyo. 

Menurutnya untuk mendapatkan pertalite harus antri panjang. Menghabiskan waktu berjam-jam.

BACA JUGA:Soal Antrian BBM di SPBU Pertamina Menjelaskan Seperti ini

Saat ini dia memilih tidak lagi keliling mencari penumpang. Agar menghemat bahan bakar.

“Kami kalau belum dapat penumpang tidak berangkat,” katanya Ayub saat mangkal, menunggu penumpang, di Simpang Pasar Inpres Lubuklinggau, Kamis (4/8/2022). 

“Minimal ada dua atau tiga penumpang dulu. Baru bisa berangkat,” tambahnya.

Menurutnya, angkot paling susah mendapatkan BBM. Padahal tampa baham bakar Pertalite, tidak bisa narik.

BACA JUGA:Warga Kaget, Harga BBM Naik, ini Rincian Harganya

Jika menggunakan Pertamax tentu tidak mendapatkan hasil. Harganya Pertamax mahal. Ongkos angkot tidak naik 

“Isi tanki dikit, antrinya panjang berjalam-jam. Pernah sampai ketiduran di dalam angkot saat antri,” katanya. 

Pengalamannya pula, pernah antri BBM sudah berjam-jam. Sampai di depan pengisian malah Pertalite habis. 

“Sekitar antrian tiga kendaraan dari depan minyak habis. Terpaksa putar balik,” katanya. 

BACA JUGA:Pengumuman! Harga Pertamax Turbo Cs Naik Lagi, Ini Daftar Harganya

Ayub juga mengeluh soal wacana penerapan aplikasi MyPertamina untuk mendapatkan BBM subsidi 

Dikaunyinya, penerapan pakai Aplikasi MyPertamina, bakal menyusahkan sopir angkot. Sebab hanya sebagian kecil saja sopir angkot yang mengunakan HP android. 

“Dari ratusan sopir angkot, paling sekitar sekitar 10 orang yang pakai HP android. Kami hanya pakai HP seperti ini,”  kata Ayub sambil menunjukan Posel non android-nya (HP hanya bisa telpon dan SMS). 

Dia menegaskan, sopir angkot tidak butuh banyak syarat. Yang mereka butuhkan adalah bagaimana BBM dapat diperoleh dengan mudah dan dengan harga yang terjangkau. 

“Intiny kami sangat keberatan keberatan jika membeli BBM harus pakai aplikas,” keluhnya. 

“Kami berharap bagaimana angkot ini dipermudahkan mendapatkan minyak,” kata Ayub sambil menjelaskan, 20 tahun jadi sopir angkot baru kali sulit mendapatkan BBM. 

Keluhan yang sama, juga diungkap salah satu tukang ojek, Tamrin (57), warga Kupang, Lubuklinggau Selatan I, Kota Lubuklinggau. (*)

Sumber: