Mitos vs Fakta: Benarkah Infus Whitening Bisa Mengubah Warna Kulit Secara Permanen?

Mitos vs Fakta: Benarkah Infus Whitening Bisa Mengubah Warna Kulit Secara Permanen?

Kelompok mahasiwa didampingi dosen Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Departemen Farmasi Universitas Sriwijaya (UNSRI) memberikan yang analisis secara ilmiah soal infus whitening--

LINGGAUPOS.CO.ID - Di era modern, standar kecantikan identik dengan kulit bersih, cerah, dan sehat sehingga mendorong berkembangnya industri estetika di Indonesia. Salah satu prosedur yang populer, terutama di kalangan wanita, adalah infus whitening atau suntik putih karena dianggap praktis dan memberikan hasil lebih cepat dibandingkan perawatan topikal. Bahkan di media sosial, infus whitening sering dipromosikan sebagai jalan cepat menuju kulit cerah. Namun, benarkah hasilnya bisa permanen?

Menjawab pertanyaan tersebut, kelompok mahasiwa didampingi dosen dari Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Departemen Farmasi Universitas Sriwijaya (UNSRI) memberikan analisis secara ilmiah. 

Melalui dosen pembimbing, apt. Rafiqah Nur Viviani, S.Farm., M.S.Farm. Serta kelompok mahasiswa diantaranya, Adinda Khairunnisa (08061182530004), Marsya Khairani Azzahrah (08061282530028), Chintya Nursangadah (08061282530052), Annisa Pratiwi (08061282530076), Nisei Nathania Amiiroh (08061382530110) dan Debby Caroline Suryani (08061382530118). 

Apa yang Disebut Infus Whitening?

BACA JUGA:Hakim Tolak Praperadilan Kades Lubuk Muda, Polres Musi Rawas Teruskan Penyidikan, Keluarga Histeris

Istilah infus whitening lebih tepat dipahami sebagai istilah pemasaran, bukan nama terapi medis yang terstandar. Istilah ini digunakan untuk memasarkan prosedur intravena dengan kandungan yang dapat berbeda-beda, misalnya vitamin C dosis tinggi, glutathione, atau campuran bahan lain. Prosedur ini tetap memerlukan pengawasan medis yang ketat karena dosis tinggi dapat memicu berbagai efek samping serius apabila tidak diberikan sesuai standar kesehatan Oleh karena itu, masyarakat perlu lebih memperhatikan aspek keamanan, legalitas klinik, dan kompetensi tenaga kesehatan yang berwenang agar dapat meminimalkan risiko malpraktik serta menghindari dampak yang merugikan di kemudian hari (Prameswari dkk., 2023; Fitriyah dkk., 2026).

Belum Terbukti Permanen, Bahkan Manfaatnya Masih Dipertanyakan 

Perlu dipahami bahwa klaim "putih permanen" sebenarnya tidak sejalan dengan mekanisme biologis kulit manusia. Warna kulit ditentukan oleh faktor genetik, jumlah dan aktivitas melanin, paparan sinar ultraviolet, hormon, serta kondisi kulit tertentu. Karena itu, perubahan warna kulit akibat penggunaan produk atau tindakan pencerah umumnya bersifat sementara dan memerlukan perawatan berkelanjutan untuk mempertahankan hasilnya.

Di balik popularitasnya, dunia medis sebenarnya telah menjelaskan bahwa efek cerah dari infus whitening tidak bersifat permanen. Glutathione merupakan antioksidan endogen yang juga diteliti karena sifat antimelanogeniknya. Namun, hal tersebut belum membuktikan bahwa pemberian intravena efektif dan aman untuk pencerahan kulit. Warna kulit dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan. Hingga saat ini, tidak ada bukti bahwa infus whitening dapat mengubah warna dasar kulit secara permanen (Sonthalia et al., 2016).

BACA JUGA:Kantor Pertanahan Musi Rawas Gelar Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila 2026

Senada dengan itu, Abdul-Nabi dan Mohammed-Jawad menjelaskan bahwa glutathione memang dapat membantu mengurangi stres oksidatif yang membuat kulit tampak kusam. Akan tetapi, hasil pencerahan sangat bergantung pada kadar zat tersebut di dalam tubuh. Karena tubuh terus memproduksi enzim pembentuk pigmen setiap hari, efek cerah tidak akan bertahan permanen tanpa penggunaan berulang. Penggunaan jangka panjang yang tidak terkontrol justru berisiko menyebabkan gangguan fungsi organ dan reaksi kulit yang berat (Abdul-Nabi & Mohammed-Jawad, 2022).

Berdasarkan berbagai penelitian tersebut, dapat dipahami bahwa infus whitening tidak mampu mengubah warna kulit secara permanen. Warna kulit manusia tetap ditentukan oleh faktor genetik dan produksi melanin alami tubuh. Meskipun prosedur ini dapat memberikan efek cerah sementara melalui penghambatan pembentukan pigmen, tubuh akan terus melakukan regenerasi sel dan mengembalikan warna dasar kulit seiring waktu.

Selain itu, promosi hasil cepat dapat mendorong penggunaan berulang untuk mempertahankan hasil yang diharapkan. Tanpa penggunaan berkelanjutan, kadar antioksidan dalam darah akan menurun sehingga proses pembentukan melanin kembali berjalan normal. Oleh sebab itu, mengejar hasil "putih permanen" dengan pemberian dosis tinggi secara intravena dapat menimbulkan efek samping, terutama bila dilakukan tanpa indikasi dan pemantauan medis. 

Risiko Tidak Boleh Diabaikan

BACA JUGA:Klinik Lapas Narkotika Muara Beliti Bagikan Obat Gratis dan Layanan Medis Berkala

Risiko meningkat apabila produk tidak memiliki izin edar, kandungannya tidak jelas, atau tindakan dilakukan di tempat yang tidak memenuhi standar pelayanan kesehatan.

Produk suntik putih yang tidak aman dapat menimbulkan reaksi alergi berat, infeksi, dan gangguan organ. Besarnya risiko bergantung pada kandungan produk, dosis, kondisi pasien, serta standar prosedur. Namun, hingga saat ini belum tersedia dosis intravena yang terbukti aman dan efektif untuk tujuan pencerahan kulit kosmetik. Karena itu, penggunaan infus whitening tanpa kebutuhan medis dan tanpa pengawasan dokter dapat meningkatkan risiko efek samping berbahaya, seperti syok alergi berat dan gangguan ginjal akibat penumpukan zat sisa dari vitamin C dosis berlebih (Mahmood, 2022).

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: