Berasal dari kata "munggah" (naik), ini bermakna meningkatkan kualitas spiritual, bersilaturahmi, saling bermaafan, dan makan bersama (botram) untuk menyucikan diri sebelum berpuasa.
5. Nyadran dari Jawa Tengah
Nyadran adalah tradisi masyarakat Jawa, terutama di Jawa Tengah dan DIY, yang dilakukan pada bulan Ruwah (Sya'ban) untuk membersihkan makam leluhur, berziarah, berdoa, dan makan bersama (kenduri) sebagai bentuk syukur dan penghormatan sebelum Ramadhan.
Tradisi ini merupakan akulturasi budaya Jawa dan Islam yang kental dengan gotong royong, sedekah, dan mempererat tali silaturahmi antar warga.
BACA JUGA:Cara Pengobatan dan Perawatan Anak Terinfeksi HIV
Masyarakat berziarah ke makam keluarga dan mendoakan arwah mereka.
Prosesi dan Kegiatan Utama Nyadran:
- Besik: Membersihkan makam leluhur dari rumput dan kotoran secara gotong royong.
- Ziarah dan Doa: Mendoakan arwah leluhur di makam, seringkali dipimpin oleh tokoh agama setempat.
- Kirab (Opsional) : Arak-arakan budaya menuju tempat upacara
- Kenduri/Kembul Bujono: Makan bersama dengan membawa makanan (sadranan) dari rumah masing-masing, kemudian didoakan bersama, dan dimakan bersama (biasanya di atas daun pisang).
6. Padusan dilaksanakan di Jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta
Tradisi Padusan adalah ritual mensucikan diri masyarakat Jawa (terutama di Yogyakarta dan Jawa Tengah) menjelang bulan suci Ramadan dengan mandi atau berendam di sumber air, sungai, atau pantai.
BACA JUGA:Berapa Hari Lagi Bulan Puasa Ramadan 2026? Cek Jadwal Lengkapnya di Sini
Dilakukan turun-temurun sehari sebelum puasa, padusan bertujuan membersihkan jiwa dan raga untuk menyambut Ramadan dalam keadaan suci.
Dapatkan update berita LINGGAUPOS.CO.ID di platform media sosial, dengan klik LINK INI