Menurut KH Taufik Damas, tradisi ruwahan sebetulnya bukan tradisi asal orang Betawi. Ruwahan juga sudah menjadi tradisi dan dilakukan di banyak tempat terutama di Pulau Jawa.
Kata ruwah sendiri sebetulnya berasal dari bahasa arab yaitu arwah kemudian berubah menjadi ruwahan.
Ruwahan diniatkan untuk berdoa dan berdzikir bersama kemudian pahalanya dikirimkan kepada orang-orang yang sudah meninggal dunia.
BACA JUGA:Imlek 2026 Tahun Keberuntungan, 5 Shio Ini Siap-siap Jadi Orang Kaya
Pelaksanaan Ruwahan umumnya dilakukan secara bersama baik lingkup keluarga maupun masyarakat umum.
KH Taufik Damas menambahkan tradisi Ruwahan sama seperti tradisi nyadran. Hanya saja sudah diislamisasikan kegiatan dengan membacakan doa yang ditujukan kepada Allah bukan yang lain.
"Tradisi sebelum Islam datang itu bernama nyadran. Kalau dulu mungkin meminta berkah kepada leluhur, di-Islam-kan jadi mendoakan orang yang sudah meninggal dunia agar mereka itu bahagia di akhirat. Biasanya dibarengi dengan kunjungan ke makam atau kuburan dan membersihkan kuburan dan menabur bunga," bebernya.
Wakil Katib Syuriyah PWNU DKI Jakarta KH Taufik Damas berpesan untuk melestarikan tradisi Ruwahan, karena mengandung banyak nilai-nilai baik untuk kehidupan bersama dalam bermasyarakat.
BACA JUGA:Grand Zuri Hotel Lubuk Linggau Hadirkan A Night to Celebrate Imlek dengan Sajian All You Can Eat
Selain nyadran dan ruwahan, ada tradisi nyekar jelang Ramadhan, yakni Nyekar.
Istilah ini yang merujuk pada ziarah kubur yang dibarengi penaburan bunga di pusara makam. Dalam pandangan Islam, bahwa ziarah kubur dianjurkan.
Dapatkan update berita LINGGAUPOS.CO.ID di platform media sosial, dengan klik LINK INI