Kabut Asap vs Abu Vulkanik, Apa Bedanya dan Mana yang Lebih Berbahaya, ini Cara Mencegah Keracunan
Kabut asap dan abu vulkanik sama-sama mengancam kesehatan--
LINGGAUPOS.CO.ID - Warga Sumatera Selatan dalam sepekan terakhir bingung: langit pekat ini asap karhutla atau abu Gunung Anak Krakatau? BMKG menegaskan kabut yang dirasakan warga terkait asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), bukan abu vulkanik.
Padahal keduanya terlihat mirip — sama-sama bikin perih mata dan sesak napas. Tapi secara ilmiah, keduanya sangat berbeda dan penanganannya pun beda.
1. Asal dan Komposisi: Organik vs Anorganik
Kabut Asap Karhutla adalah campuran hasil pembakaran biomassa hutan. Dinas Kesehatan Kalbar menjelaskan asap mengandung gas dan partikel kimia seperti sulfur dioksida (SO2), karbon monoksida (CO), formaldehid, akrelein, benzen, nitrogen oksida (NOx) dan ozon permukaan (O3).
BACA JUGA:Ada Asap Karhutla dan Debu Vulkanik, ini 5 Cara Cek Kualitas Udara Hari Ini Lewat HP
Kemenkes RI menambahkan, asap karhutla mengangkut gabungan senyawa kimia berbahaya dan partikel mikro, seperti PM2.5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, serta senyawa organik beracun.
Abu Vulkanik justru bukan asap. Pakar Vulkanologi ITB, Dr. Eng. Mirzam Abdurrachman menjelaskan abu vulkanik adalah silika (SiO2) seperti pasir kuarsa dengan tingkat kekerasan 7 atau sangat keras.
Penelitian UMSU mencatat abu vulkanik mengandung unsur logam seperti Timbal, Tembaga, Krom, Kadmium, Seng, Boron, Barium, Selenium, Perak, Besi, dan silika kristal.
Sementara itu, dari hasil pemantauan BMKG, kabut asap di Lubuk Linggau dan sekitarnya yang dirasakan masyarakat berkaitan dengan asap kebakaran hutan dan lahan, bukan abu vulkanik.
BACA JUGA:SKK Migas–KKKS SRMD Bersama Yonif TP 846/KS Bagikan Masker, Cegah ISPA di Tengah Kabut Asap Muratara
2. Bentuk Partikel: Lembut vs Tajam Seperti Kaca
Ini perbedaan paling krusial. Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menegaskan karakteristik abu vulkanik terletak pada gabungan dua sifat sekaligus: bentuk fisiknya yang sangat tajam menyerupai serpihan kaca, dan komposisi kimianya yang bersifat korosif.
Sementara partikel asap karhutla berbentuk bulat dan lebih lunak, sehingga efeknya lebih ke keracunan kimia (toksik), bukan melukai fisik.
Masyarakat diminta mewaspadai karena abu vulkanik bukan sekadar debu biasa, melainkan campuran mineral, bebatuan, hingga partikel kaca yang dapat mengiritasi saluran pernapasan.
BACA JUGA:BKSDA Pasang Perangkap, Beruang yang Berkeliaran di Lubuk Binjai Lubuk Linggau Belum Tertangkap
3. Bahaya Kesehatan: Mana Lebih Berbahaya?
Bahaya Kabut Asap Karhutla:
Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, dr. Then Suyanti menegaskan senyawa beracun tersebut berpotensi memperberat ISPA, PPOK, asma, dan gangguan pernapasan. Bahkan Kemenkes dan AHA memperingatkan risiko kesehatan akibat karhutla bisa memicu risiko henti jantung karena PM2.5 masuk aliran darah.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: