Penyebaran Campak di Musi Rawas Utara Naik Status KLB, Bersama 3 Daerah Lainnya
4 daerah di Sumsel KLB Campak, termasuk Musi Rawas Utara--alodokter.com
LINGGAUPOS.CO.ID – Penyebaran penyakit Campak di Musi Rawas Utara (Muratara) naik status menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB), bersama Palembang, Prabumulih dan Banyuasin.
Karena itulah, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) menjadi prioritas ORI (Outbreak Response Immunization) untuk semua bayi dan balita (usia 9 bulan–5 tahun).
“Di Sumsel, Palembang dan Prabumulih masuk KLB konfirmasi lab. Sedangkan Banyuasin dan Muratara KLB suspek campak,” jelas Kepala Bidang P2P Dinkes Provinsi Sumatera Selatan, Ira Primadesa, dikutip Kamis 12 Maret 2026.
Dijelaskannya, berdasarkan data Kemenkes RI, ada 45 KLB yang tersebar di 29 kabupaten/kota secara nasional.
BACA JUGA:Teknik Pernapasan 4-7-8 untuk Pengendara Motor, Rahasia Jantung Aman di Tengah Macet
Terkait masifnya penyebaran virus campak ini, telah dilakukan zoom meeting Kemenkes dengan seluruh Dinas Kesehatan provinsi/kabupaten/kota serta lintas sektor.
Menindaklanjuti itu, Dinkes Provinsi Sumsel sudah mengeluarkan Surat Edaran Kewaspadaan Terhadap Peningkatan Kasus dan KLB Penyakit Campak ke semua daerah.
"Ini dilakukan untuk menindaklanjuti adanya peningkatan kasus campak pada awal tahun 2026 dibandingkan periode yang sama 2025,” kata dia.
Disampaikan juga kalau penyakit ini dapat dicegah dengan imunisasi. “Tingkat penularannya sangat tinggi dan campak dapat menimbulkan komplikasi bahkan kematian," sampainya.
BACA JUGA:Iuran BPJS Kesehatan Naik, Menkes: Kelompok Miskin Tetap Terlindungi Penuh
Peningkatan kasus dipengaruhi karena terjadinya cakupan imunisasi rutin yang rendah dan tidak merata. Juga munculnya kantong-kantong risiko penyakit campak yang berdampak pada kemungkinan terjadinya KLB.
"Sampai dengan minggu ke-2 tahun ini, kami mencatat telah terjadi peningkatan kasus di 10 kabupaten/kota dan 1 KLB campak pasti di 1 kabupaten/kota," terangnya.
Peningkatan kasus dan terjadinya KLB campak dapat menambah beban bagi masyarakat, tenaga kesehatan dan negara, serta meningkatkan angka kesakitan bahkan kematian. Terutama pada kelompok rentan.
Kondisi ini juga berpotensi terhambatnya pencapaian Eliminasi Campak Rubela/Congenital Rubella Syndrome (CRS) yang ditargetkan tercapai pada 2030.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: