Liga 1 2023-2024: Ada Perubahan Nama Kompetisi, Begini Opsi Sistemnya

Liga 1 2023-2024: Ada Perubahan Nama Kompetisi, Begini Opsi Sistemnya

BRI Liga 1.-twitter.com/Liga1Match/-

BACA JUGA:Daerah Penghasil Beras Terbanyak di Sumatera Selatan, Bukan OKU Timur dan Musi Rawas

Terkait klub-klub yang masuk kelompok 10 kecil, akan diterapkan format satu grup dengan sistem single round robin alias setiap klub bertemu satu kali. Dengan demikian, masing-masing klub akan menjalani sembilan pertandingan. Nantinya, tiga tim terbawah pada fase ini terdegradasi ke Liga 2 2024-2025.

Bagaimana dengan opsi kedua?

Untuk babak reguler, 18 klub bakal memainkan sistem double round robin alias kandang-tandang. Totalnya ada 306 pertandingan dalam 34 pekan. Dalam paparan tersebut, rencananya fase ini akan digelar pada 14 Juli 2023-3 April 2024. Nantinya, empat tim teratas pada fase ini akan melaju ke babak final series. Sedangkan tiga peringkat terbawah terdegradasi ke Liga 2 2024-2025.

Pada final series, akan menerapkan sistem knock-out (gugur) dengan satu pertandingan. Peringkat pertama akan berhadapan dengan posisi keempat, sedangkan posisi kedua bakal melawan posisi ketiga pada fase ini. Peringkat pertama dan kedua berhak menjadi tuan rumah untuk babak ini.

Pemenangnya, akan melaju ke partai final yang akan digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. Periode ini rencananya akan digelar pada 20-27 April 2024.

BACA JUGA:Alumni Seba Polri SPN Bentung Angkatan 1991/1992 Dukung Ayo Ngelong ke Lubuklinggau

Sementara itu, PSSI bertekad membawa kompetisi di Indonesia menjadi yang terbaik di Asia Tenggara mengalahkan Thailand dan Vietnam. 

Saat ini Liga Thailand menjadi yang terbaik di Asia Tenggara berdasarkan ranking dan penilaian kompetisi dari Konfederasi Sepakbola Asia (AFC). "Apakah kita (PSSI) mampu? Saya optimistis mampu mengalahkan Thailand dan Vietnam terkait dengan kompetisi," kata Ketua Umum PSSI Erick Thohir.

Erick menambahkan, banyak hal yang dibicarakan dengan pihak klub pada kegiatan sarasehan di Surabaya. “Kita bicara bisnis, kompetisi yang ideal dan bagus, dan ujung-ujungnya tujuannya adalah menyehatkan klub. Kalau pemilik klub harus bakar duit terus, ya klub itu pasti tidak akan sehat. Saya kira kita sepakat semua ingin maju, ingin klub sehat, dan tentu ujungnya adalah tim nasional yang tangguh,” pria yang juga menjabat Menteri BUMN itu menegaskan.

Erick pun memberi contoh soal pendapatan liga-liga di dunia (bukan saja Liga Sepakbola). Salah satu contoh soal market value NBA yang mencapai US$8 miliar. Demikian juga dengan Serie A, Bundesliga, La Liga, Premier League, dan lain-lain.

BACA JUGA:Kakek di Musi Rawas Ditemukan Tak Bernyawa di Kebun Karet

"Jadi mereka belum bertanding saja sudah untung. Jadi ke depan kita ingin seperti itu. Apakah bisa? Bisa. Saya yakin,” ucapnya.

“Ke depan akan ada sarasehan dengan Liga 3, Asosiasi Provinsi (Asprov), jambore suporter dan kita juga bicara bisnis. Liga sepak bola itu bukan komunitas yang eksklusif. Kita bersaing dengan negara lain. Jadi banyak hal yang akan kita lakukan,” Erick Thohir menuturkan.*

Berikut keputusan sarasehan Liga 1 & Liga 2:

  1. Kalender kompetisi antara Liga 1 dan Liga 2 akan seminimal mungkin beririsan satu sama lain, hal ini guna meningkatkan nilai komersial dan keolahragaan bagi Liga 2, agar kualitasnya naik secara signifikan.
  2. Liga 2 akan memiliki slot tersendiri yang tidak beririsan dengan Liga 1, sehingga fans & suporter Liga 2 bisa menikmati sepak bola dengan lebih meriah.
  3. Proteksi ekosistem bisnis Liga 1 dan Liga 2 yang akan dibangun dengan kepastian jadwal dan perizinan secara terpusat.
  4. Regulasi dan format kompetisi yang ditentukan dengan lebih menarik, dengan adanya sistem play-off.
  5. Klub Liga 1 dan klub Liga 2 sepakat untuk menatap ke depan mempersiapkan tim untuk musim 2023-2024, dan di sela waktu khusus untuk Liga 2 akan dibuat mini turnamen untuk mempersiapkan tim.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: