Mayat Berserakan di Hutan Ukraina, Evakuasi Terhalang Ranjau

Mayat Berserakan di Hutan Ukraina, Evakuasi Terhalang Ranjau

LINGGAUPOS.CO.ID - Rombongan konvoi Ukraina yang diikuti Bud Wichers terhenti di tengah hutan. Mereka menemukan banyak jenazah yang sudah membusuk.

Misi ini dilakukan dengan mempertaruhkan nyawa. Bisa jadi itu jebakan. Ada banyak ranjau yang dipasang prajurit Rusia. Termasuk di bawah mayat rakyat Ukraina.

Budi, panggilan akrabnya masih belum mau memberi tahu di mana posisinya hingga kemarin, Selasa, 14 Juni 2022.


Jenazah ke-6 ditemukan. Kondisinya sudah membusuk akrena sudah 100 hari tergeletak di hutan Ukraina. -Bud Wichers/Harian Disway-

Prajurit Ukraina yang ada di rombongan Konvoi memintanya merahasiakan lokasi liputannya.

Yang jelas, ia terus bergerak ke arah tenggara setelah mengunjungi Kharkiv, Chuhuiv, dan Balakliya. Rombongan sangat dekat dengan kawasan Donbas di Timur Ukraina.

Pasukan Rusia serta tentara separatis Donetsk dan Luhansk di tempat itu terkadang hanya berjarak ratusan meter.

“They just poke in the ground and hope it doesn't explode (Mereka hanya mencolek ke tanah dan berharap ranjau tidak meledak, Red),” ujarnya.

Kalau ada ranjau yang meledak, misi gagal.  Jumlah jenazah di tempat itu bakal bertambah banyak.

Jalan tanah di tengah hutan dipenuhi ranting dan dedaunan. Secara teori, lokasi itu sangat potensial jadi jebakan. Banyak jenazah, dan tanahnya tertutup dedaunan. Ranjau sulit terdeteksi.


--

Mungkin Rusia tahu akan ada prajurit Ukraina yang datang mengambil jenazah rakyat sipil itu. Jadi mereka menyebar jebakan di sana.

Entah bagaimana mereka terbantai di tengah hutan. Yang jelas ada banyak sekali jenazah yang tergeletak.

“It's bad. Soooo many corpses. I feel kinda sick from the smell (Kondisinya menyedihkan. Banyak sekali jenazah. Baunya membuat aku mual, Red),” keluh Budi.

Jasad itu sudah menghitam dan hancur. Mereka sudah tergeletak di sana awal invasi, pada Februari 2022. Kata Budi, kemungkinan jenazahnya sudah 100 hari lebih ditinggalkan.

Ia mengeluarkan kamera dan lensa panjangnya. Budi memotret dari jauh, sedangkan tim medis mempersiapkan kantong jenazah. “It actually reminded me of something (Aku jadi teringat suatu hal, Red),” katanya.

Foto-foto yang diambil mengingatkannya dengan liputan Tsunami Aceh 2004 silam. Kala itu, Budi masih berusia 27 tahun. Ia sudah jadi wartawan perang dan bencana. 

Butuh waktu berbulan-bulan untuk mengevakuasi jenazah korban tsunami Aceh. Bencana merenggut 230 ribu nyawa manusia.

Temperatur hangat di Ukraina mempercepat pembusukan jenazah. Tubuh mereka sudah hancur dan nampak tulang-belulangnya. Namun, pakaian sipil yang mereka kenakan masih utuh.

Mereka tersebar di berbagai tempat. Tim tak mampu mengangkut semua mayat itu. Selain keterbatasan kendaraan, mereka juga memperhitungkan risiko terkena ranjau.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menuding tentara Rusia memasang ranjau pada mayat, saat mereka mundur Maret dan April lalu. 

"Mereka memasang ranjau di semua wilayah ini. Rumah dipasang ranjau, peralatan dipasang ranjau, bahkan mayat orang mati," ucapnya, Minggu, 3 April 2022.

Karena itulah pengambilan jenazah dilakukan dengan sangat hati-hati. Setelah memotret kondisi jenazah dan lokasinya, tim medis memeriksa jasad itu. Bisa jadi mereka masih mengantongi kartu identitas.

“Mereka akan mengidentifikasinya untuk analis kejahatan perang,” lanjut jurnalis berusia 45 tahun itu.

Pengadilan Perang Ukraina digelar untuk kali pertama bulan lalu. Vadim Shishimarin, seorang komandan tank Rusia berusia 21 tahun diadili setelah membunuh seorang warga sipil tua yang tidak bersenjata di desa Chupakhivka, pada 28 Februari.

Vadim divonis penjara seumur hidup pada 24 Mei. Saat itu, Kepala Kejaksaan Ukraina, Iryna Vediktova telah mengumpulkan lebih dari 11 ribu kejahatan perang. Sebanyak 40 orang ditetapkan jadi tersangka. Juni ini jumlah kejahatan perang tentu jauh lebih banyak.

Budi telah menyaksikan kebrutalan itu. Selama 20 tahun pengalamannya di medan pertempuran, inilah yang paling mengerikan. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: harian disway