Penyaluran dilakukan bertahap per provinsi agar dapur dan logistik siap.
Seperti Apa Menunya?
BACA JUGA:Pemeriksaan Radiologi di RSIA Dwi Sari Lubuk Linggau yang Cepat, Akurat dan Aman
Menu disusun ahli gizi dari Kemenkes dan BGN - Badan Gizi Nasional.
Standarnya harus mengandung 4 pilar: karbohidrat, protein hewani/nabati, sayur, dan buah. Plus susu.
Contoh menu 1 porsi MBG: Nasi + Ayam/ikan/telur + Tahu tempe + Sayur bening/bayam + Buah potong + Susu kotak.
Kemudian untuk balita: bubur, MPASI, biskuit tinggi protein. Lalu untuk ibu hamil: menu tinggi zat besi, protein, dan asam folat.
Untuk menu Program MBG disesuaikan dengan kearifan lokal. Misalnya di Sumatera bisa ada ikan, di Papua ada sagu dan ubi.
Hal ini bertujuan agar bahan baku mudah didapat dari petani sekitar.
Bagaimana Cara Kerjanya?
MBG tidak dibagikan langsung dari pusat. Pemerintah membangun Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau "Dapur MBG" di tiap kecamatan/kelurahan.
BACA JUGA:RSIA Ananda Lubuk Linggau: Solusi Kesehatan Ibu, Anak dan Program Hamil Terbaik
Dapur ini yang memasak, mengemas, lalu mendistribusikan makanan ke sekolah dan posyandu setiap hari kerja.
Pengelola dapur diprioritaskan dari masyarakat sekitar + UMKM catering.
Pemerintah juga menggandeng BUMN Pangan seperti Bulog, ID Food, dan petani lokal untuk rantai pasok.
Anggaran dan Pengawasan
BACA JUGA:Medco E&P Grissik Dukung Budidaya Lele untuk Dorong Kemandirian Ekonomi Masyarakat
Anggaran MBG dialokasikan dari APBN. Per porsi ditargetkan Rp10.000 hingga Rp15.000 tergantung wilayah.