LINGGAUPOS.CO.ID – Social Engineering merupakan teknik manipulasi psikologis yang dilakukan pelaku untuk mengelabui korban agar mau memberikan informasi sensitif secara sukarela.
Pelaku biasanya berpura-pura menjadi pihak yang terpercaya, seperti staf bank, petugas pemerintah, atau admin e-commerce, untuk membangun rasa percaya.
Modus operandi ini biasanya memancing emosi korban agar bertindak gegabah.
Contoh pesan yang sering dikirim pelaku:
BACA JUGA:Waspada Modus Penipuan Social Engineering, Berikut 5 Cara Mengamankan Akun Mobile Banking
"Transaksi Anda sebesar Rp5.000.000,- berhasil. Jika bukan Anda, klik link berikut untuk membatalkan transaksi."
Pesan tersebut sengaja dibuat untuk menimbulkan kepanikan. Sehingga tanpa disadari, korban akan mengklik tautan tersebut.
Selanjutnya anda akan diminta memasukkan User ID, Password, hingga kode OTP di halaman palsu tersebut.
Begitu data dimasukkan, pelaku dapat langsung mengakses rekening dan mengambil dana korban.
BACA JUGA:TK Unggulan Bintang Al- Aqsa Lubuk Linggau Latih Anak Mandiri Lewat Kegiatan Ekstrakurikuler
Data yang paling sering diburu pelaku antara lain: Nomor kartu, kode OTP, TAC, PIN, kode CVV/CVC, hingga Password aplikasi mobile banking.
Ciri-ciri Pesan Penipuan Perlu Diwaspadai
Agar terhindar dari jeratan kejahatan siber, perhatikan ciri-ciri pesan phishing berikut ini.
1. Tautan Mencurigakan
BACA JUGA:5 Model Kitchen Set Minimalis Dapur Kecil Terbaru 2026, Harga Mulai Rp1 Jutaan!
Alamat website yang dikirim bukan domain resmi milik bank (seringkali menggunakan ekstensi aneh atau penulisan yang sedikit berbeda).
2. Meminta Data Rahasia
Bank tidak pernah meminta kode OTP, PIN, Password, atau CVV melalui pesan singkat atau chat. Jika ada yang meminta data ini, dipastikan itu penipuan.