Penting untuk Dipahami, Ini Sejarah Hari Pendidikan Nasional yang Diperingati Setiap 2 Mei

Rabu 30-04-2025,06:32 WIB
Reporter : Endah Sari
Editor : Agung Perdana

Ki Hajar Dewantara kelak beralih menggeluti dunia jurnalistik.

BACA JUGA:Pelopor Pertama di Lubuk Linggau Creamy Salad Buah, Harga Mulai Dari Rp15.000, Disukai Semua Kalangan Usia

Kemudian melalui tulisan-tulisannya di surat kabar dan majalah Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara, ia menyatakan kritik sosial politik kaum Bumiputra pada penjajah secara halus tetap keras, komunikatif dan mengena

Seperti dikutip dari Ki Hajar Dewantara: Pemikiran dan Perjuangannya yang diterbitkan Museum Kebangkitan Nasional dalam rangka 109 tahun Kebangkitan Nasional.

Atas kritiknya, Ki Hajar Dewantara diasingkan ke Pulau Bangka. Ia yang kembali dari pengasingan kelak bertekad mendirikan lembaga pendidikan untuk memperjuangkan kesatuan dan persamaan lewat nasionalisme kultural serta politik.

Sehingga dari situ, lahirlah Perguruan Taman Siswa pada 1922 yang menyediakan layanan pendidikan bagi masyarakat Bumiputra. 

BACA JUGA:Hadirkan Desain Super Elegan! Inilah 5 Rekomendasi HP Layar Lengkung Murah Jelang Mei 2025

Mereka adalah anak-anak yang saat itu tidak diberikan akses pendidikan yang sama seperti anak bangsawan dan Belanda.

Ki Hajar Dewantara juga menolak UU Sekolah Liar (Wilde Scholen Ordonnantie 1932). UU kolonial tersebut membatasi gerak nasionalisme pendidikan dan mewajibkan sekolah swasta di Hindia Belanda untuk dapat izin dulu dari pemerintah kolonial, khususnya yang tidak disubsidi atau diberhentikan subsidinya seperti Perguruan Taman Siswa.

Dalam hal melawan penjajahan di bidang pendidikan, Ki Hajar Dewantara pun melakukan perlawanan. ia lantas menyerukan agar pihak-pihak penerima keberadaan Taman Siswa untuk bergabung.

Yang keberatan terhadap Taman Siswa dipersilakan menentang, sedangkan yang tak acuh dipersilakan menjadi penonton.

BACA JUGA:Tingkatkan Kesiapsiagaan, Lapas Narkotika Muara Beliti Lakukan Perawatan dan Pengecekan Senjata Api

Melalui Taman Siswa, Ki Hajar Dewantara menerapkan sistem among atau pendidikan berjiwa kekeluargaan yang berpikir pada kodrat alam dan kemerdekaan. Dasarnya adalah semangat dan kebebasan berpendapat.

Pendidikan di Taman Siswa saat itu bertujuan membangun generasi penerus yang ingin dan siap memperjuangkan kemerdekaan untuk bersatu sebagai bangsa. 

Pendidikan mereka didukung pamong atau pendidik yang meluangkan 24 jam harinya pada anak didik sebagaimana orang tua memberi pelayanan pada anak.

Dengan sistem ini, ia juga ingin merintis pendidikan yang humanis, populis, dan memelihara kedamaian dunia. 

BACA JUGA:Kapolres Musi Rawas Siap Bersinergi Menjaga Kamtibmas Demi Kemajuan Daerah

Sistem itupun menentang sistem pendidikan yang jamak saat itu, yakni menitikberatkan pada perintah dan sanksi, patuh soal seragam, sistem belajar, dan lain-lain yang tidak berkaitan dengan proses berpikir,  serta sanksi jika tidak patuh pada sebuah aturan.

Perjuangan Ki Hajar Dewantara di bidang pendidikan ini telah memberikan dasar-dasar pendidikan nasional yang bernafaskan rasa cinta tanah air dan menghargai kebebasan atau kemerdekaan.

Usai wafat pada 26 April 1959, tanggal kelahiran Ki Hajar Dewantara dijadikan Hari Pendidikan Nasional. Diharapkan, semua insan pendidikan pada momentum tersebut dapat ingat kembali akan pentingnya pendidikan bagi peradaban dan daya saing bangsa.

Kategori :