5 Kesalahan Saat Berkendara dalam Kabut Asap yang Sering Dilakukan Pengendara
Hal yang harus dihindari saat berkendara di kabut asap--
LINGGAUPOS.CO.ID - Kabut asap karhutla bukan sekadar bikin sesak napas, tapi juga jadi perangkap maut di jalan raya. Jarak pandang bisa turun drastis dari 100 meter menjadi hanya 10-20 meter.
Sayangnya, banyak pengendara yang justru melakukan kesalahan fatal yang membahayakan diri sendiri dan orang lain. Berikut 5 kesalahan paling sering terjadi saat berkendara dalam kabut asap, dirangkum dari instruktur safety driving dan Korlantas Polri.
1. Menyalakan Lampu Hazard Sambil Jalan - Kesalahan Paling Sering!
Ini kesalahan nomor satu di Indonesia. Mentang-mentang jarak pandang terbatas, banyak pengemudi langsung menyalakan lampu hazard.
BACA JUGA:AC di Rumah Menyala Saat Kabut Asap, Apakah Udara Kotor Bisa Ikut Masuk?
Padahal, menurut pendiri Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, lampu hazard digunakan pada situasi emergency saja dan hanya saat kendaraan berhenti. Masih banyak pengendara mobil yang menggunakan lampu hazard tidak pada saatnya, misalnya ketika cuaca hujan ataupun berkabut.
Kasatlantas Polrestabes Semarang juga menjelaskan, lampu hazard adalah lampu penanda yang hanya boleh diaktifkan dalam kondisi darurat, dengan kondisi mobil dalam keadaan diam atau berjalan pelan.
Kenapa berbahaya? Saat hazard menyala, lampu sein mati total. Pengendara di belakang jadi bingung, apakah kamu mau belok, berhenti, atau lurus. Risiko tabrak belakang jadi tinggi. Yang benar adalah menyalakan lampu utama dan lampu kabut (fog lamp).
2. Menggunakan Lampu Jauh (High Beam) Biar Terang
BACA JUGA:Kenapa Kabut Asap Bisa Bertahan Meski Hujan Sudah Turun? Ini Penjelasan BMKG
Logikanya: kabut tebal, jadi pakai lampu jauh biar lebih terang. Faktanya SALAH TOTAL.
Partikel asap PM2.5 bersifat memantulkan cahaya. Saat kamu pakai high beam, cahaya justru akan memantul kembali ke mata dan menciptakan efek white wall, pandangan jadi makin putih dan silau.
Instruktur safety driving Andry Berlianto menyarankan, pada dasarnya saat berkendara di kondisi berkabut, pertama kurangi kecepatan, dan gunakan lampu kabut sebagai penerangan. Lampu kabut posisinya rendah dan sorotannya melebar di bawah, sehingga tidak memantul oleh asap.
Gunakan low beam (lampu dekat) + fog lamp. Matikan high beam.
BACA JUGA:Kecewa dengan PUPR, Warga Kayu Ara Lubuk Linggau Swadaya Perbaiki Jembatan Gantung
3. Tidak Menjaga Jarak Aman dan Tetap Ngebut
Saat kabut asap, jarak pengereman menjadi lebih panjang karena aspal lembap dan licin. Banyak pengendara tetap melaju 60-80 km/jam dengan jarak 1-2 meter dari kendaraan depan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: