Keponakan Oknum Guru SMP Cabul di Lubuk Linggau Speak Up, Ngaku Jadi Korban Selama 3 Tahun

Keponakan Oknum Guru SMP Cabul di Lubuk Linggau Speak Up, Ngaku Jadi Korban Selama 3 Tahun

Keponakan Oknum Guru SMP Cabul Speak Up--

LINGGAUPOS.CO.ID – Seseorang mahasiswi yang kini sedang menempuh pendidikan di Pekanbaru, Riau, mengaku menjadi korban oknum guru SMP Negeri 1 Lubuk Linggau, inisial A yang kini diamakan di Polres Lubuk Linggau.

Melalui akun facebook miliknya dengan nama Mee Emee, mahasiswi tersebut mengaku adalah keponakan dari oknum guru A, guru BK di SMP Negeri 1 Lubuk Linggau. 

Dalam postingan yang dituliskan di FB dan sudah diizinkan untuk dikutip, Mee Emee mengaku harus bersuara (speak up) terkait kejadian ini.

Ia mengaku adalah keponakan dari oknum guru A, dan menetap di rumahnya sejak kelas 2 SMP sampai dengan kelas 1 SMK.

BACA JUGA:Kepala SMP Negeri 1 Lubuk Linggau: Oknum Guru Sudah Diamankan Polisi

Dengan viralnya kasus oknum guru A di medsos, itulah yang menjadi salah satu pemicu, ia berani speak up di media sosial, kendati ada keluarga yang meminta ia mentakedown postingan tersebut.

Ia pun mengatakan bahwa Allah menjawab doa-doanya selama ini. “Bismillahh, Allahu akbar Allahu akbar. Hati masih bergetar dan terasa panas sesak. Allah sudah menjawab segala doa yang telah aku doakan selama ini. Allahu akbar,” katanya.

“Aku, kali ini memberanikan diri untuk speak up. Aku adalah korban pelecehan dari oom aku sendiri. Tidak lain tidak bukan, ia adalah guru BK di salah satu SMP di Lubuk Linggau sumatra Selatan,” jelasnya. 

“Dari 2017 aku tinggal dengan mereka dikarenakan ada suatu masalah dengan orang tua angkat. Jadi, ibunya inisiatif untuk menyarankan tinggal dengan mereka. Aku bahagia, tapi trauma,” tulisnya.

BACA JUGA:Inspektorat Lubuk Linggau Turun Tangan, Sebut Kemungkinan Pelanggaran Berat Oknum Guru SMP

“Dari 2017 sampai dengan 2020, aku mengalami tindak kekerasan seksual.  Yang mana itu adalah pengalaman pertama yang paling buruk membekas di ingatan ku sampai saat ini. Hampir setiap malam, aku menerima itu semua,” katanya.

“Aku pendam itu, dikarenakan aku takut untuk diusir.  Saat itu usia ku masih menginjak 14 tahun. Biadapnya manusia memanfaatkan kelemahanku,” jelasnya. 

“Ia lulusan kampus dengan backgroundnya yang alim dan agamis. 5 waktu sholat tepat waktu, aku diancam jika mengadu.  Dan aku takut saat itu, tidak ada yang bisa mendukung aku. Setiap hari, aku harus menerima perlakuan bejat manusia kelakuan iblis,” ceritanya.

“Jika ditanya, pakaian ku. Aku tidak pernah memakai pakaian yang tidak sopan sedikitpun. Aku tinggal dengan orang juga tau diri.  Bukan fisik yang lelah, batin ku seolah dicambuk bertubi tubi. Kejadian itu selalu dilakukan, setiap tengah malam. Antara jam 2 sampai mendekati waktu subuh,” katanya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait