Kabut Asap Karhutla dan Abu Vulkanik, Apa Bedanya? Ini Cara Membedakannya

Jumat 11-09-2026,09:27 WIB
Reporter : Endang Kusmadi
Editor : Endang Kusmadi

BACA JUGA:SKK Migas–KKKS SRMD Bersama Yonif TP 846/KS Bagikan Masker, Cegah ISPA di Tengah Kabut Asap Muratara

3. Dari Sumber Data Satelit

BMKG bisa melacak sumbernya. Untuk abu vulkanik, pantauan dilakukan dengan citra RGB Himawari-9 untuk melihat sebaran abu di dua rentang ketinggian atmosfer. Sedangkan untuk Karhutla, acuan utamanya adalah titik panas (hotspot). 

4. Dari Tekstur dan Sisa di Permukaan

Jika diusap di mobil atau daun, asap Karhutla meninggalkan jelaga hitam berminyak dan lengket. Abu vulkanik meninggalkan lapisan debu halus seperti pasir sangat halus, terasa kasar dan tajam saat digosok karena mengandung silika dan partikel kaca.

BACA JUGA:Jangan Ngerem Mendadak, 9 Tips Berkendara di Tengah Kabut Asap Agar Terhindar dari Kecelakaan

5. Dari Dampak Kesehatan

Dokter paru dari RSUP Persahabatan, Prof. Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K) menjelaskan bahwa partikel halus dalam abu vulkanik mengandung silika dan mineral lainnya yang dapat masuk ke saluran napas bagian atas maupun bawah. 

Sementara Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Prof. Tjandra Yoga Aditama mengatakan, abu vulkanik adalah campuran mineral, bebatuan, hingga partikel kaca yang dapat mengiritasi saluran pernapasan. Jika masuk ke paru-paru, bisa merusak dan menghancurkan sel alveolar paru. 

Sedangkan asap Karhutla, karena ukuran partikelnya PM2.5, ia bisa lolos masuk sampai ke saluran napas terkecil, bahkan ke alveolus tempat oksigen diserap ke darah. 

BACA JUGA:Diduga Karena Kabut Asap, Tabrakan Beruntun Terjadi di Tol Palindra Ogan Ilir, 14 Orang Luka

Cara Melindungi Diri

Baik Karhutla maupun abu vulkanik, perlindungannya sama: gunakan masker N95, bukan masker kain. Tutup rapat pintu dan jendela, perbanyak minum air putih, dan bagi penderita asma serta PPOK, segera siapkan obat inhaler controller sesuai anjuran dokter.

Jangan menyapu abu vulkanik dalam keadaan kering karena akan beterbangan kembali. Cara yang direkomendasikan adalah penyapuan dan penyemprotan dengan air. 

Jika jarak pandang sudah di bawah 500 meter dan mata perih, segera hindari aktivitas di luar ruangan dan pantau kualitas udara melalui aplikasi resmi BMKG dan KLHK.

Kategori :