Awal Ramadan 2026 Berpotensi Berbeda, Kenapa Bisa?

Sabtu 14-02-2026,15:14 WIB
Reporter : Endah Sari
Editor : Budi Santoso

Merangkum dari berbagai sumber, berikut adalah penjelasan singkat mengenai faktor utama penyebab perbedaan awal Ramadan, khususnya di Indonesia.

•   Metode Rukyatul Hilal vs Hisab

 Metode hisab menentukan awal bulan berdasarkan perhitungan astronomi untuk menentukan posisi hilal. Tidak perlu melihat hilal secara langsung, cukup berdasarkan data perhitungan.

BACA JUGA:Jadwal dan Tahapan Sidang Isbat Penentu Awal Ramadan 2026

Sebaliknya, metode rukyatul hilal mengamati hilal (bulan sabit) secara langsung setelah matahari terbenam.

Jika hilal terlihat, maka malam itu sudah masuk tanggal 1 bulan berikutnya.

Jika tidak terlihat (karena cuaca atau faktor lainnya), bulan berjalan digenapkan menjadi 30 hari.

•   Perbedaan Kriteria Visibilitas Hilal (MABIMS)

BACA JUGA:Peneliti BRIN: Awal Ramadan 2026 Berpotensi Beda, Antara Pemerintah dengan Muhammadiyah

Pemerintah dan NU menggunakan kriteria imkanur rukyat (kemungkinan hilal terlihat), yaitu tinggi hilal minimal 3 derajat dan sudut elongasi 6,4 derajat. Jika hilal berada di bawah kriteria ini, bulan Syakban digenapkan menjadi 30 hari.

•   Perbedaan Geografis dan Posisi Hilal

Indonesia memiliki bentang geografis luas yang mempengaruhi keterlihatan hilal.

Selain itu, posisi bulan yang rendah di ufuk barat saat matahari terbenam menyulitkan pengamatan (rukyat) langsung.

BACA JUGA:Rekomendasi Suplemen Penambah Masa Otot Wanita Usia 40 Tahun ke Atas, Cek Sekarang

•   Perbedaan Dasar Hukum (Mazhab)

Adanya perbedaan pemahaman dalam menafsirkan hadis tentang perintah berpuasa berdasarkan rukyat, yang menghasilkan pendekatan lokal maupun global dalam penetapan bulan baru.

Kategori :