Penggunaan terapi testosteron jangka panjang tampaknya memiliki risiko masalah kardiovaskular seperti serangan jantung, stroke, dan kematian akibat penyakit jantung.
Hal ini dibuktikan pada sebuah studi yang dilaporkan dalam The New England Journal of Medicine.
BACA JUGA:Rekomendasi Tanaman Hias untuk Hadiah Wisuda 2026: Estetis dan Low Maintenance, Cocok untuk Gen Z
Dalam penelitian tersebut diketahui bahwa pria di atas 65 tahun yang pakai testosteron gel berisiko lebih tinggi mengalami gangguan jantung.
Penelitian lainnya juga menunjukkan hal yang serupa. Bahkan, pria dewasa maupun lansia sama-sama berisiko terkena serangan jantung saat mengkonsumsi suplemen testosteron.
2. Sindrom metabolik
Pria yang minum suplemen testosteron juga diketahui memiliki kadar kolesterol HDL yang lebih rendah.
BACA JUGA:Cara Tukar Uang Baru di Bank Indonesia, Disiapkan Dana Rp8,6 Triliun, untuk THR ke Keluarga
Padahal jenis kolesterol satu ini tergolong baik dan diperlukan oleh tubuh.
Jika dibiarkan dalam waktu lama, pria usia lanjut berkemungkinan untuk mengembangkan sindrom metabolik, yang merupakan “kumpulan” dari berbagai masalah kesehatan seperti diabetes, tekanan darah tinggi, maupun kolesterol tinggi.
3. Gangguan prostat
Studi lain yang dilakukan tahun 2014 menemukan bahwa terapi testosteron dapat meningkatkan risiko kanker prostat pada tikus jantan.
BACA JUGA:Kemenag Aceh Perkirakan 1 Ramadan 1447 H Jatuh Pada Kamis 19 Februari 2026
Meski dilakukan pada tikus, hasil penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Endocrinology ini diduga memiliki potensi efek samping yang serupa jika digunakan pada pria.
Namun, masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut pada manusia untuk memastikan hasil studi ini.
4. Masalah lainnya
Adapun untuk masalah lainnya yang ditimbulkan dari suplemen testosteron ialah dapat memicu jerawat, gangguan pernapasan saat tidur (sleep apnea), pembesaran payudara,atau pembengkakan di pergelangan kaki.
BACA JUGA:4 Manfaat Luar Biasa Ubiquinol CoQ10 untuk Pria Usia 40 Tahun ke Atas, Penting Disimak
Tak hanya itu. Suplemen hormon juga bisa meningkatkan risiko pembekuan darah yang terbentuk di vena bagian dalam. Jika dibiarkan tanpa pengobatan yang tepat, kondisi ini dapat menyebabkan emboli paru.