Apa itu? Yakni penularan dari ibu ke anak ketika terjadi saat masa kehamilan, proses persalinan, atau melalui pemberian ASI.
Meski jarang, penularan HIV juga bisa terjadi lewat transmisi horizontal. Contohnya penggunaan alat suntik bersama, alat tindik, atau tato yang terkontaminasi virus HIV.
Khusus pada kelompok remaja, risiko terinfeksi HIV dapat muncul lewat perilaku seksual tidak aman.
Apalagi masa remaja merupakan periode rentan karena rasa ingin tahu tinggi, pengaruh lingkungan.
BACA JUGA:Waspada, Ini 5 Penyakit Penyerta Musim Penghujan Saat Ini
Serta potensi eksploitasi dari pihak yang tidak bertanggung jawab.
Tanpa pengetahuan yang memadai, remaja dapat terjebak dalam hubungan seksual berisiko.
Sehingga pada akhirnya meningkatkan kemungkinan terpapar HIV maupun infeksi menular seksual (IMS).
Pencegahan HIV Terhadap Anak
BACA JUGA:Polsek Muara Lakitan Ucapkan Selamat Diperpanjangnya Sertifikat Terverifikasi Dewan Pers
Ada beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah virus HIV menular kepada anak.
1. Skrining HIV pada ibu hamil di fasilitas pelayanan kesehatan.
2. Pemberian obat antiretroviral (ARV) pada ibu hamil yang terinfeksi HIV.
3. Pertolongan persalinan dilakukan sesuai dengan indikasi.
BACA JUGA:Tanggap Bencana Longsor Cisarua Kabupaten Bandung, BRI Peduli Salurkan Bantuan Bagi Warga Terdampak
4. Pemberian profilaksis HIV pada bayi baru lahir dari ibu yang terinfeksi HIV.
Untuk pemberian ASI kepada bayi dari ibu yang terinfeksi HIV dilakukan sesuai dengan standar dan ketentuan peraturan perundang-undangan.