Diceritakan bahwa beliau melewati tujuh lapisan langit, bertemu dengan para nabi seperti Adam (langit 1), Isa & Yahya (langit 2), Yusuf (langit 3), Idris (langit 4), Harun (langit 5), Musa (langit 6), dan Ibrahim (langit 7).
Puncak perjalanan adalah Sidratul Muntaha, tempat Nabi Muhammad SAW bertemu langsung dengan Allah SWT.
Di Sidratul Muntaha, Allah SWT mewajibkan salat 50 waktu sehari semalam.
BACA JUGA:Libur Isra Miraj Januari 2026 Bisa Jadi Long Weekend, Catat Tanggalnya
Namun atas saran Nabi Musa, Nabi Muhammad meminta keringanan, dan jumlahnya dikurangi secara bertahap hingga menjadi lima waktu salat yang kita kenal sekarang, dengan pahala setara 50 waktu.
Peristiwa ini memiliki makna mendalam karena menegaskan kedudukan salat sebagai tiang agama dan kewajiban utama umat Islam.
Momentum Isra Miraj seharusnya menjadi pengingat untuk menjaga salat lima waktu, meningkatkan kualitas ibadah, serta memperbaiki hubungan dengan Allah SWT maupun sesama manusia.
Isra Miraj bukan hanya kisah perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW, tetapi juga sebuah pelajaran berharga tentang pentingnya iman, spiritualitas, dan hubungan dengan Allah SWT.
BACA JUGA:Lantik Kajari Musi Rawas Dr Ema Siti Huzaemah Ahmad, SH, MH, Ini Pesan Kajati Sumatera Selatan
Salat lima waktu, yang menjadi inti dari peristiwa ini, mengajarkan umat Islam untuk senantiasa menjaga komunikasi dengan Sang Pencipta.
Dapatkan update berita LINGGAUPOS.CO.ID di platform media sosial di LINK INI