Selain itu, pemakaian masker menjadi hal wajib, terutama saat beraktivitas di luar ruang. Masker tak hanya melindungi dari polusi dan debu, tetapi juga dari penularan penyakit melalui udara.
“Bahkan bagi yang sedang batuk pilek, penggunaan masker tetap penting meski di dalam kamar,” tambahnya.
Hal itu penting karena virus yang menyebar ke lansia atau penderita penyakit kronis dapat memicu pneumonia yang lebih berat.
Cuaca ekstrem di Makkah turut memperburuk kondisi. Dengan suhu mencapai 42°C dan kelembapan di bawah 30%, risiko dehidrasi meningkat drastis.
BACA JUGA:Jemaah Haji Indonesia Wajib Perhatikan! Jangan Pernah Lakukan 6 Hal Ini di Masjidil Haram
“Kami sarankan jamaah minum air minimal 200 ml setiap jam untuk mencegah kekeringan tenggorokan dan dehidrasi,” tegas dr Imran.
Jelang fase Armuzna, rangkaian puncak ibadah haji yang berlangsung di luar ruangan selama enam hari, kesiapan fisik dan mental jamaah menjadi krusial.
dr Imron menekankan pentingnya tidak memaksakan diri, terutama bagi jamaah dengan riwayat penyakit kronis.
“Bagi jamaah dengan hipertensi, jantung, atau diabetes, kami minta untuk melakukan pemeriksaan kesehatan rutin seminggu sekali di kloter, termasuk cek gula darah dan tekanan darah,” ujarnya.
BACA JUGA:Jemaah Haji Indonesia Dapatkan Slot Tersendiri di Kompleks Tenda Arafah, Fasilitasnya Lengkap
Ia menutup dengan pesan penting: jika mengalami gejala sakit, jamaah diimbau segera menghubungi petugas kesehatan kloter agar mendapat penanganan dini dan mencegah kondisi memburuk.
Dapatkan update berita LINGGAUPOS.CO.ID di platform media sosial, dengan klik LINK INI